( Norma, Etika,
Moral, Susila dan Akhlak-Tasawuf )
DISUSUN OLEH :
M. RASYID HIDAYAT 170101040233
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum
warahmatullah wabarakatuh
Dengan mengucapkan puji dan syukur atas
kehadirat Allah SWT, dan Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada
Nabi Muhammad ﷺ sampai
akhir hayat. Dalam kesempatan ini akhirnya penyusun dapat menyelesaikan tugas
makalah Akhlak Tasawuf ini yang berjudul
“Norma, Etika,
Moral, Susila dan Akhlak-Tasawuf”.
Penyusun menyadari sepenuhnya bahwa makalah
ini masih jauh dari kesempurnaan dan masih banyak kekurangannya, hal ini
dikarenakan keterbatasan waktu, pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki
penyusun, oleh karena itu penyusun sangat mengharapkan adanya saran atau kritik
yang sifatnya membangun untuk perbaikan dimasa yang akan datang dan sebagai
motivasi bagi kami untuk lebih baik kedepannya.
Pada kesempatan ini, penyusun mengucapkan
terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu menyelesaikan tugas ini
terutama kepada dosen pengampu mata kuliah. Semoga Allah SWT, membalas amal kebaikan beliau. Jazaakumullah khairon . Aamiin.
Dengan segala pengharapan dan doa semoga makalah ini dapat memberikan
manfaat bagi penyusun khususnya dan bagi pembaca umumnya.
Barakallahu fiikum,
Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.
Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.
Banjarmasin, 03
Oktober 2018
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...................................................................................................... i
DAFTAR ISI..................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN............................................................................................ 1
1.1. Latar belakang........................................................................................ 1
1.2. Rumusan masalah................................................................................... 1
1.3. Tujuan penulisan..................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN.............................................................................................. 3
2.1. Difinisi
Norma, Etika, Moral, Susila dan Akhlak-Tasawuf
a. Pengertian Norma............................................................................... 3
b. Pengertian Etika................................................................................. 3
c. Pengertian Moral................................................................................ 4
d. Pengertian Susila................................................................................ 5
e. Pengertian Akhlak-Tasawuf............................................................... 5
2.2. Analisis perbandingan antara Norma, Etika, Moral, Susila dan Akhlak-Tasawuf
a.
Persamaan........................................................................................ 6
b.
Perbedaan........................................................................................ 7
2.3. Pembentukan Norma,
Etika, Moral, Susila dan Akhlak-tasawuf
a. Pembentukan Norma.......................................................................... 8
b. Pembentukan Etika............................................................................ 9
c. Pembentukan Moral........................................................................... 9
d. Pembentukan Susila........................................................................... 9
e. Pembentukan Akhlak-Tasawuf.......................................................... 9
BAB III PENUTUP....................................................................................................... 11
3.1. Simpulan................................................................................................. 11
3.2. Saran....................................................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................... iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sebagai manusia yang
beragama dan berakhlakul karimah, setiap manusia mempunyai kedudukan untuk
melakukan kewajiban bersyukur kepada Allah SWT. Secara historis dan teologis
agama sebagai pengawal dan memandu perjalanan hidup umat manusia agar menemui
keselamatan didunia dan diakhiratnya. Khususnya pada agama Islam yang dibimbing
dan dipimpin oleh Nabi Muhammad ﷺ yang kedatangannya
untuk menyempurnakan kitab-kitab yang telah lalu dan akhlak yang sangat mulia,
dan sejarah mencatat bahwa faktor pendukung keberhasilan dakwah beliau itu
antara lain karena dukungan akhlaknya yang prima, sehinga hal ini dinyatakan
oleh Allah didalam Al-Qur’an.
Kepada semua manusia
khususnya yang beriman kepada Allah diminta agar akhlak dan keluhuran dan budi
pekertinya seperti Nabi Muhammad ﷺ. Itu dijadikan contoh kehidupan diberbagai bidang entah itu dalam kemasyarakatan atau dalam
kepribadian masing-masing, dan Allah pun berjanji yang memenuhi permintaan ini
dijamin keselamatan didunia dan akhirat. Itulah sebabnya kita semua diharapkan
bisa memiliki akhlak seperti Rasulullah entah itu dalam etika, moral,
kesusilaan dan kesopanan agar kita hidup aman, nyaman, sejahtera, tentram
didunia dan akhirat.
1.2. Rumusan Masalah
Rumusan masalah makalah ini akan membahas beberapa masalah antara lain :
a.
Apa Pengertian dan Objek dari Norma, Etika, Moral, Susila dan Akhlak-Tasawuf.
b.
Apa Persamaan dan Perbedaan Norma, Etika, Moral, Susila dan Akhlak-Tasawuf
c.
Analisis Perbandingan antara Norma, Etika, Moral, Susila dan Akhlak-Tasawuf
1.3. Tujuan Penulisan
a. Tujuan umumnya untuk menambah ilmu
pengetahuan dan memberikan pemahaman tentang
Norma, Etika, Moral, Susila dan Akhlak-Tasawuf.
b. Tujuan Khususnya yaitu untuk memenuhi tugas
pada mata kuliah Akhlak Tasawuf dari dosen pengampu Bpk Drs. M. Masykuri Hamdie,
M.Ag.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Norma,
Etika, Moral, Susila dan Akhlak-Tasawuf
A. Pengertian Norma
Adapun pengertian norma
dalam Kamus Bahasa Indonesia adalah
ukuran untuk menentukan sesuatu, sedangkan norma menurut
pengertian Sosiologi adalah aturan yang berlaku disertai dengan sanksi
bagi pelanggarnya.
Pada dasarnya norma lebih mengacu kepada upaya
membimbing, mengarahkan, memandu, membiasakan dan memasyarakatkan hidup yang
sesuai dengan aturan-aturan dan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat juga
menggambarkan orang yang selalu menerapkan nilai-nilai yang dipandang baik. Ini
sama halnya dengan moral.
Norma ini didasarkan pada hati nurani atau akhlak
manusia. Norma adalah nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat yang dianggap
sebagai peraturan dan dijadikan pedoman dalam bertingkah laku. Norma dipatuhi
oleh seseorang agar terbentuk akhlak pribadi yang mulia.
B. Pengertian Etika
Perkataan ini
berasal dari bahasa yunani “ethos”. Yang berarti adat kebiasaan. Ia
membicarakan kebiasaan (perbuataan), tetapi bukan menurut arti tata-adat,
melainkan tata-adab,yaitu berdasarkan intisari atau sifat dasar manusia baik
buruk. Jadi,
etika adalah teori tentang perbuataan manusia dilihat dari baik buruknya. Dalam
pelajaran filsafat, etika merupakan cabang dari ilmu filsafat.[1]
Etika adalah ilmu yang membahas perbuatan baik dan
perbuatan buruk manusia sejauh yang dapat dipahami oleh pikiran manusia
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, etika adalah :
·
Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk,
tentang hak dan kewajiban moral.
·
Kumpulan asas/nilai yang berkenaan dengan akhlak.
·
Nilai mengenai yang benar dan salah yang
dianut masyarakat.
Etika terbagi atas dua :
·
Etika Umum, ialah etika yang membahas tentang
kondisi-kondisi dasar bagaimana manusia itu bertindak secara etis. Etika inilah
yang digunakan sebagai tolak ukur penilaian baik buruknya suatu tindakan
·
Etika Khusus, ialah penerapan moral dasar
dalam bidang kehidupan yang khusus misalnya olah raga, bisnis atau profesi
tertentu. Dari sinilah nanti akan lahir etika bisnis dan etika profesi
(Hakim,Dokter, Wartawan, dll ).
C. Pengertian Moral
Di samping
dikenal dengan istilah etika, juga dikenal dengan istilah moral. Perkataan “moral” berasal dari bahasa latin mores, kata
jama’ dari mos yang berarti adat kebiasaan. Dalam bahasa
Indonesia, moral diterjemahkan sebagai susila. Moral artinya sesuai dengan
ide-ide yang umum diterima tentang tindakan
manusia, yang baik dan wajar, sesuai dengan ukuran tindakan yang oleh
umum diterima, meliputi kesatuaan sosial atau lingkungan tertentu.[2]
Menurut Kamus
Besar Bahasa Indonesia yang mengatakan bahwa moral adalah ajaran tentang baik
buruk perbuatan dan kelakuan,[3] dapat dipahami sebagai sebuah ajaran dan atau sebuah konsep moral,
tentang mana sebuah aktivitas yang dikategorikan baik dan manapun yang
dikatogerikan buruk. Aktivitas yang baik disebut sebagai aktivitas yang
bermoral (baik), namun bila aktivitas itu buruk disebut tidak bermoral (bukan
moral nya buruk).[4]
Adapun pengertian moral adalah suatu kebaikan
yang disesuaikan dengan ukuran-ukuran tindakan yang diterima oleh umum,
meliputi kesatuan atau lingkungan tertentu.
Didalam moral terdapat perbuatan/tingkah
laku/ucapan seseorang dalam menjalankan interaksi dengan manusia. Jika yang
dilakukan seseorang itu sesuai dengan nilai rasa yang berlaku dimasyarakat
tersebut dan dapat diterima serta mampu menyenangkan lingkungan masyarakatnya,
maka orang itu dapat dikatakan memiliki nilai/mempunyai moral yang baik.
Moral sendiri lebih mengacu kepada suatu nilai
atau sistem hidup yang dilaksanakan dan diberlakukan dimasyarakat, maka ukuran
untuk menentukan moral ini adalah adat istiadat.[5]
D. Pengertian Susila
Susila atau
kesusilaan berasal dari kata dari bahasa sansekerta, yaitu su dan sila. Su itu
berarti baik, bagus dan sila berarti dasar, prinsip, peraturan hidup atau
norma.
Kata susila
selanjutnya digunakan untuk arti sebagai aturan hidup yang lebih baik.
Selanjutnya kata susila dapat berarti sopan, beradab, baik budi bahasanya. Dan
kesusilaan sama dengan kesopanan.
Dengan
demikian kesusilaan lebih mengacu kepada upaya membimbing, memandu,
mengarahkan, membiasakan, dan memasyarakatkan hidup yang sesuai dengan norma
atau nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Kesusilaan menggambarkan dimana
orang selalu menerapkan nilai-nilai yang dipandang baik.[6]
E. Pengertian Akhlak-Tasawuf
Kata akhlak berasal dari bahasa arab khuluq
yang jamaknya akhlak, Menurut bahasa, akhlak adalah perangai,
tabiat, dan agama. Kata tersebut
mengandung segi-segi persesuaian dengan perkataan khalq yang berarti
“kejadian”. Serta erat hubungannya dengan kata khaliq yang berarti
“pencipta” dan makhluk yang berarti “yang diciptakan”.[7]
Beberapa terminologi pengertian akhlak yang menyisakan masalah
tersebut adalah:
1.
Menurut imam al-ghazali:
Akhlak adalah
kondisi jiwa yang tertanam dalam hati kemudian melahirkan aktivitas horizontal
dengan mudah sekali tanpa memerlukan pemikiran yang panjang.[8]
2.
Menurut Sidi Ghazalba:
Akhlak adalah
sikap kepribadiaan yang melahirkan prilaku perbuataan manusia terhadap diri
sendiri dan makhluk yang lain sesuai dengan suruhan dan larangan serta petunjuk
al-quran dan al-hadits.[9]
Yang dimaksud
dengan tanpa melalui pikiran panjang disini adalah aktivitas horizontal yang
bernilai baik dan dilakukan secara istiqamah, kontinyu dan sustainable,
tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, di manapun dan kapanpun. Bahkan pelakunya
merasa berdosa bila horizontalitas kebaikan tersebut tidak dilakukannya.[10]
Ruang lingkup Kajian Ilmu Akhlak:
1.
Perbuatan-perbuatan manusia menurut ukuran baik dan buruk.
2.
Objeknya adalah norma atau penilaian terhadap perbuatan
tersebut.
3.
Perbuatan tersebut baik perbuatan individu maupun kolektif.
Pengertian tasawuf menurut istilah adalah sikap mental yang selalu
memelihara kesucian diri, beribadah, hidup sederhana, rela berkorban untuk
kebaikan, dan selalu bersikap bijaksana
dalam menggapai keridaan Allah Swt[11].
2.2. Persamaan dan Perbedaan Norma, Etika, Moral, Susila dan Akhlak-Tasawuf
A. Persamaan
Ada
beberapa persamaan antara Norma, Etika, Moral, Susila dan Akhlak, yaitu sebagai berikut.
Pertama, Norma, Etika, Moral, Susila dan Akhlak mengacu pada ajaran atau
gambaran tentang perbuatan,tingkah laku,sifat, dan perangai yang baik.
Kedua, Norma, Etika, Moral, Susila dan Akhlak merupakan prinsip atau
aturan hidup manusia untuk mengukur martabat dan harkat kemanusiaannya. Semakin
tinggi kualitas akhlak,etika,moral, dan susila,seseorang atau sekelompok orang,
semakin tinggi kualitas kemanusiaannya.
Sebaliknya,
semakin rendah kualitas akhlak,etika,moral, dan susila seseorang atau
sekelompok orang, semakin rendah pula kualitas kemanusiaannya.
Ketiga, Norma, Etika, Moral, Susila dan Akhlak seseorang atau sekelompok
orang tidak semata-mata merupakan faktor keturunan yang bersifat tetap,stastis,
dan konstan, tetapi merupakan potensi positif yang dimiliki setiap orang.
Untuk
pengembangan dan aktualisasi potensi positif tersebut diperlukan pendidikan,
pembiasaan, dan keteladanan, serta dukungan lingkungan, mulai lingkungan
keluarga, sekolah, dan masyarakat secara terus-menerus dengan tingkah
konsistensi yang tinggi.[12]
Dilihat dari
segi fungsi dan peranannya, dapat dikatakan bahwa akhlak,etika, moral dan
kesusilaan itu sama-sama menentukan hukum atau nilai dari suatu perbuatan yang
dilakukan oleh manusia untuk ditentukan baik buruknya, benar dan salahnya
sehingga dengan ini akan menciptakan masyarakat yang teratur, aman, damai,
tentram dan sejahtera lahir dan bathin.
B. Perbedaan
Selain persamaan antara akhlak,
etika, dan moral, sebagaimana diuraikan diatas, terdapat pula beberapa segi
perbedaan yang menjadi ciri khas masing-masing. Berikut ini adalah uraian
mengenai segi-segi perbedaan tersebut.
Pertama, akhlak merupakan istilah
yang bersumber dari Al-quran dan As-sunnah. Nilai-nilai yang menentukan baik
dan buruknya, layak atau tidak layak suatu perbuatan, kelakuan, sifat, dan
perangai dalam akhlak yang bersifat universal dan bersumber dari ajaran allah
swt. Sementara itu,etika merupakan filsafat nilai, pengetahuan tentang
nilai-nilai, dan kesusilaan tentang baik dan buruk. Jadi, etika bersumber dari
pemikiran yang mendalam dan renungan filosofis, yang pada intinya bersumber
dari akal sehat dan hati nurani.
Dengan kata lain, perbedaan diantara ketiga istilah itu adalah:
a.
Akhlak tolak ukurnya adalah al-quran dan as-sunnah
b.
Etika tolak ukurnya adalah pikiran atau akal (akal pikiran)
c.
Moral dan susila tolak ukurnya adalah norma/kebiasaan yang hidup
dalam masyarakat.[13]
Berikut ini adalah perbedan-perbedaan
antara etika, moral, dan susila:
1. Perbedaan dalam sumber yang menjadi patokan untuk
menentukan baik dan buruk.
- Etika: Penilaian baik dan buruk berdasarkan pendapat
akal pikiran.
- Moral: penilaian baik dan buruk berdasarkan norma
atau adat kebiasaan.
- Susila :
bersumber pada nilai-nilai yang berkembang dan dipandang baik oleh masyarakat
2. Perbedaan dalam sifat pemikiran dan kawasan
pembahasan.
Etika lebih banyak bersifat teoristis, maka pada moral
dan susila lebih banyak bersifat praktis. Etika memandang tingkah laku manusia
secara umum sedang moral dan susila bersifat lokal atau individual. Etika
menjelaskan baik dan buruk sedang moral dan susila menyatakan ukuran tersebut
dalam bentuk perbuatan.[14]
Persamaan ketiganya terletak
pada fungsi dan peran, yaitu menentukan hukum atau nilai dari suatu perbuatan
manusia untuk ditetapkan baik atau buruk.
Secara rinci persamaan tersebut terdapat dalam
tiga hal:
1. Objek: yaitu perbuatan manusia
2. Ukuran: yaitu baik dan buruk
3. Tujuan: membentuk kepribadian manusia
1. Objek: yaitu perbuatan manusia
2. Ukuran: yaitu baik dan buruk
3. Tujuan: membentuk kepribadian manusia
Perbedaan
1. Sumber atau acuan:
- Etika sumber acuannya adalah akal
- Moral sumbernya norma atau adat istiadat
- Akhlak bersumber dari wahyu
- Etika sumber acuannya adalah akal
- Moral sumbernya norma atau adat istiadat
- Akhlak bersumber dari wahyu
2. Sifat Pemikiran:
- Etika bersifat filososfis
- Moral bersifat empiris
- Akhlak merupakan perpaduan antara wahyu dan akal
- Etika bersifat filososfis
- Moral bersifat empiris
- Akhlak merupakan perpaduan antara wahyu dan akal
3. Proses munculnya perbuatan:
- Etika muncul ketika ad aide
- Moral muncul karena pertimbangan suasana
- Akhlak muncul secara spontan atau tanpa pertimbangan.
- Etika muncul ketika ad aide
- Moral muncul karena pertimbangan suasana
- Akhlak muncul secara spontan atau tanpa pertimbangan.
2.3. Pembentukan Norma, Etika, Moral, Susila
dan Akhlak-tasawuf
a.
Norma
Dalam
kehidupannya, manusia sebagai makhluk sosial yang memiliki ketergantungan
dengan manusia lainnya. Mereka hidup dalam kelompok-kelompok, baik kelompok
komunal maupun kelompok materiil.
Kebutuhan
yang berbeda-beda, secara individual atau kelompok menyebabkan benturan
kepentingan. Untuk menghindari hal ini maka kelompok masyarakat membuat norma
sebagai pedoman perilaku dalam menjaga keseimbangan kepentingan dalam
bermasyarakat.
b.
Etika
Kata etika sudah melekat dalam
setiap interaksi yang dilakukan manusia dengan sesamanya. Sebagai suatu subjek,
etika berkaitan dengan konsep yang dimiliki oleh individu maupun kelompok untuk
menilai apakah tindakan-tindakan yang dikerjakannya itu salah, benar, baik atau
buruk[15].
Latar belakang terbentuknya etika
dalam masyarakat yaitu adanya suatu adat istiadat dimasyarakat yang memandang
suatu perbuatan itu apakah baik atau buruk. Contohnya seperti seorang remaja
yang membentak neneknya.
c.
Moral
Perkembangan moral ditandai dengan
kemampuan anak untuk mematuhi aturan, norma, dan etika yang berlaku
dimasyarakat. Perkembangan moral terlihat dari perilaku moralnya di masyarakat
yang menunjukkan kesesuaian dengan nilai dan norma di masyarakat. Perilaku
moral ini banyak dipengaruhi oleh pola asuh orang tua serta perilaku dari
orang-orang sekitar.
d.
Susila
Susila biasanya bersumber pada adat
yang berkembang di masyarakat setempat tentang sesuatu perbuatan itu layak atau
tidak layak. Dengan demikian susila merujuk pada arti perilaku baik yang
dilakukan seseorang.
Skema
perbandingan dalam bentuk table :
|
N.E.M.S.AT
|
Ukuran
|
Sumber
|
Sifat Pemikiran
|
Objek
|
Tujuan
|
|
Norma
|
Baik-Buruk
|
Hati Nurani dan Adat Setempat
|
Empiris
|
Perbuatan Manusia
|
Membentuk Kepribadian
|
|
Etika
|
Baik-Buruk
|
Akal
|
Filosofis
|
Perbuatan Manusia
|
Membentuk Kepribadian
|
|
Moral
|
Baik-Buruk
|
Adat Setempat
|
Empiris
|
Perbuatan Manusia
|
Membentuk Kepribadian
|
|
Susila
|
Baik-Buruk
|
Empiris
|
Perbuatan Manusia
|
Membentuk Kepribadian
|
|
|
Akhlak
|
Baik-Buruk
|
Al-Qur’an dan Hadits
|
Wahyu dan Akal
|
Norma dan Perbuatan Manusia
|
Membentuk Kepribadian
|
BAB III
P
E N U T U P
3.1 KESIMPULAN
Etika lebih merupakan ilmu
pengetahuan yang berhubungan dengan upaya menentukan perbuatan yang dilakukan
manusia untuk dikatakan baik atau buruk. Atau dengan kata lain etika adalah
pola tingkah laku yan dihasilkan oleh akal manusia yang menentukan baik dan
buruk.
Moral adalah istilah yang digunakan
untuk memberikan batasan terhadap aktifitas manusia dengan nilai atau ketentuan
baik atau buruk, benar atau salah. Acuan moral adalah sistem nilai yang
hidup dan diberlakukan dalam masyarakat. Misalnya : jika ada orang dalam
kehidupan sehari-hari dikatakan bermoral, maka yang dimaksudkan adalah bahwa
orang tersebut tingkah lakunya baik.
Sedangkan kesusilaan lebih mengacu
kepada upaya membimbing, memandu, mengarahkan, membiasakan, dan memasyarakatkan
hidup yang sesuai dengan norma atau nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat.
Ada beberapa persamaan antara Etika,
Moral, dan Susila, yaitu sebagai berikut:
Etika, Moral, dan Susila mengacu
pada ajaran atau gambaran tentang perbuatan, tingkah laku, sifat, dan perangai
yang baik. Etika, Moral, dan Susila merupakan prinsip atau aturan hidup manusia
untuk mengukur martabat dan harkat kemanusiaannya. Etika, moral, dan susila
seseorang atau sekelompok orang tidak semata-mata merupakan faktor keturunan
yang bersifat tetap.
Adapun perbedaannya adalah perbedaan
dalam sumber yang menjadi patokan untuk menentukan baik dan buruk serta
perbedaan dalam sifat pemikiran dan kawasan pembahasan.
3.2 SARAN
Dan diharapkan, dengan diselesaikannya makalah ini, baik
pembaca maupun penyusun dapat menerapkan etika, moral dan akhlak yang baik dan
sesuai dengan ajaran islam dalam kehidupan sehari-hari.
Daftar
Pustaka
Anwar. Rosihon, Akhlak Tasawuf, (bandung : CV.Pustaka setia,
2010)
Syamhudi.
M.Hasyim, Akhlak Tasawuf: dalam
kontruksi piramida ilmu islam,(Jatim: Madani Media, 2015)
Nata, Abuddin. Akhlak
Tasawuf, (Jakarta : PT Raja Grafindo, 2011)
Gazalba.
Sisi, Asas Kebudayaan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1978),
Poerwadarminta,
WJS. Kamus Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka,1983)
Nuh ,
Muhammad, Etika Profesi Hukum, (Pustaka Setia Offset, 2011)
Referensi
Tambahan/pendukung
JAWHARIE.BLOGSPOT.COM , “ETIKA, MORAL, SUSILA, DAN AKHLAK” (diakses 11/30/2010)
http://jawharie.blogspot.com/2010/11/etika-moral-susila-dan-akhlak.html
http://jawharie.blogspot.com/2010/11/etika-moral-susila-dan-akhlak.html
[1] DR. Rosihon Anwar, AKHLAK TASAWUF, (bandung : CV.Pustaka
setia, 2010), hlm.15
[2] DR. Rosihon Anwar, Akhlak Tasawuf, ( Bandung : CV.Pustaka
setia, 2010), hlm.17
[3] WJS. Poerwadarminta, Kamus Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai
Pustaka,1983), hlm.654
[4] M.Hasyim
Syamhudi, Akhlak Tasawuf: dalam kontruksi piramida ilmu islam,(Jatim:
Madani Media, 2015), hlm.26
[5] Syahminan Zaini, Hakikat Agama dalam Kehidupan Manusia, (Al-Ikhlas),
hlm.189
[6] Prof. Dr. Abuddin Nata, M.A., Akhlak Tasawuf,
(Jakarta : PT Raja Grafindo, 2011), hlm.96
[7]
Dr. Rosihon
Anwar, Akhlak Tasawuf, (Bandung : CV.Pustaka setia,2010),
hlm.11
[8] Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali, ihya’ulumu al-Din,
Juz III, (Beirut, Daru al-Kutub al-ilmiyah, 2008), hlm.68
[9] Sisi Gazalba, Asas
Kebudayaan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1978), hlm.105
[10] M.Hasyim Syamhudi, Akhlak Tasawuf: dalam kontruksi piramida
ilmu islam, (Jatim: Madani Media, 2015) hlm.24
[11] Drs.Rosihan
Anwar, M. Ag., Ilmu Tasawuf, (Bandung
: CV.Pustaka Setia,2000), hlm. 9
[12] Dr. Rosihon Anwar, Akhlak Tasawuf, (Bandung : CV.Pustaka
setia,2010), hlm.19
[13] Ibid, hlm.20
[14] Dr. Rosihon Anwar, Akhlak Tasawuf, (Bandung : CV.Pustaka
setia,2010), hlm.19
[15] Muhammad Nuh, Etika Profesi Hukum, (Pustaka Setia Offset,
2011), hlm. 17